Monday, 23 October 2017

Selamat Ulang Tahun, Raya!

Hai Anak, selamat ulang tahun ke-2 Nak

Waktu rasanya cepat sekali berlalu. Rasanya seperti baru kemarin bapakmu berpacu dengan lalu lintas Senin pagi untuk mengantar ibu ke rumah sakit. Baru kemarin rasanya kamu menangis dalam tidur karena tertimpa guling bayi. :) 

Tapi jangan khawatir nak, Ibu sudah lupa sama sekali mengenai kesakitan ketika kelahiranmu. Satu yang masih bisa Ibu rasakan dengan persis sama sampai saat ini adalah perasaan ibu ketika pertama kali memeluk kamu Nak.

Terima kasih sudah menjadi bagian bahagia kami.

Jadilah anak yang sholeh

Selalu bahagia

Dan jangan lupa untuk selalu berbuat baik. Berbaiklah pada semua orang tanpa kecuali.

Ibu tidak akan menuntut kamu menjadi anak penurut pada manusia. Termasuk pada Ibu, Ibu ini cuma manusia biasa Nak. Ibu takut jika kamu menjadi penurut, segala sesat pikir yang Ibu tak sadari akan kamu ikuti juga Nak.

Teruslah bertanya, berpikir, dan bergerak  Nak. Duniamu diluar sana lebih luas, lebih besar dari apa yang kami pahami dan ketahui.

Kamu adalah manusia utuh milik dirimu sendiri Nak. Maka melangkahlah dengan pemikiranmu sendiri.

Doa kami setiap saat bagi diri kami, agar Ibu dan Bapak selalu ikhlas terbuka pada hal-hal baru yang positif dan selalu siap bertukar pikiran denganmu nanti. Sekali lagi, agar kami tidak menjadi bebal pada sesat pikir kami.

Selamat ulang tahun

Manggala Raya | pemimpin besar 

Aamiin.

Let's travel and get old together, team!


Monday, 31 July 2017

A Tribute To Slipknot - Pulse of the Maggots

Pulse of the Maggots,

Berjarak sejengkal dari kata menyerah, dan lagu ini literally has and always saved my life.



Suatu malam. Lelah dengan keadaan. Skripsi yang tak kunjung sesuai target ditambah permasalahan lain yang datang bersamaan. Playlist winamp di PC tiba-tiba muter lagu ini. Somehow, saya terdiam sejenak. Merasa ringan. Waktu itu bahkan belum tahu liriknya tentang apa. Malam itu, dengan koneksi internet seadanya langsung cari tahu lirik lagunya. Membacanya saya menangis. Kemudian merasa cukup dengan semua keluh kesah.

Liriknya saya print, saya tempel di papan meja kerja. Lagunya selalu ada di playlist.
Dan klise saja, setiap merasa hampir menyerah saya lihat kembali bait-bait lagunya dan merasa semangat kembali.
Saya bahkan menempatkan Slipknot pada ucapan terima kasih di skripsi saya.
Thank you, dear ;*

This is the year where hope fails you
The test subjects run the experiments
And the bastards you know is the hero you hate
But cohesing is possible if we strive
There's no reason, there's no lesson
No time like the present, telling you right now
What have you got to lose?
What have you got to lose except your soul?
Who's with us?

I fight for the unconventional
My right and it's unconditional
I can only be as real as I can
The disadvantage is I never knew the plan

This isn't just the way just to be a martyr
I can't walk alone any longer
I fight for the ones who can't fight
And if I lose, at least I tried

We—we are the new diabolic
We—we are the bitter bucolic
If I have to give my life you can have it
We—we are the pulse of the maggots

I won't be the inconsequential
I won't be the wasted potential
I can make it as severe as I can
Until you realize you'll never take a stand

It isn't just a one-sided version
We've dealt with a manic subversion
And I won't let the truth be perverted
And I won't leave another victim deserted

We—we are the new diabolic
We—we are the bitter bucolic
If I have to give my life you can have it
We—we are the pulse of the maggots

Do you understand? Yes [4x]

Say it again, say it again, we won't die [8x]

We fight 'til no one can fight us
We live and no one can stop us
We pull when we're pushed too far
And the advantage is the bottom line is

We never had to fight in the first place
We only had to spit back at their face
We won't walk alone any longer
What doesn't kill us, only makes us stronger

We—we are the new diabolic
We—we are the bitter bucolic
If I have to give my life you can have it

We—we are the pulse of the maggots

Friday, 9 June 2017

Sakitnya Raya


Sedikit kilas balik kejadian sakitnya Raya yang lumayan bikin ibunya lumayan panik. 

Disclaimer dulu ya, sebelum lanjut cerita :
Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk mendiskreditkan profesi atau rumah sakit tertentu. Murni hanya untuk berbagi pengalaman pribadi.

Manggala Raya, menjelang 18 bulan (19 April 2017)

Alhamdulillah, Raya termasuk anak yang jarang banget sakit. Meskipun begitu, obat batuk pilek panas yang generik + termometer selalu tersedia di kantong obatnya Raya. 
Pokoknya selalu merasa well prepared, pede, dan tenang.

Katanya, anak-anak rentan sekali terpapar virus. Apalagi jika ada teman sepermainannya yang sudah sakit duluan, namanya anak-anak ya memang ga bisa kalo ga main bareng. Jadi waktu itu ada keponakan, temen mainnya Raya sehari-hari, yang sudah sakit pilek duluan, ya tetep aja ga mau misah mainnya. Awal sakit pilek, seperti biasa, ibunya tenang-tenang aja.

Sabtu, 25 Maret 2017. Raya pilek isi panas sedikit. Panasnya masih di area 37-37,4 °C. Belum minum obat. Kebetulan hari itu ada acara 3 bulanan saudara. Ibunya pede aja ngajak Raya kondangan. Anaknya hepi + ga bisa diem juga sih ya. Makannya masih bagus disini.

Oh iya, Raya sampai sekarang masih makan sayuran kukus + lauk yang ibunya buat sendiri. Belum kena makanan-makanan dan minuman-minuman ringan tak sehat, susu (selain ASI) pun belum. Ibunya masih bisa galak ke orang-orang sekitarnya :)

Minggu,  26 Maret 2017. Bapak Raya tiba di rumah siang harinya. Memang rencana mau liburan Nyepi bareng. Anaknya masih panas. Ibunya juga masih santai. Sekarang isi batuk sedikit. Mulai minum obat batuk + pilek  karena udah mulai susah bernapas, dan obat panas (kalau panas diatas 37,5 °C). Mulai susah makan. Tapi nyusunya tambah kenceng.

Senin, 27 Maret 2017. Batuk, pilek + panas. Disini Raya mulai bangun dini hari karena panas badannya tinggi. Jam 3 dini hari panasnya sampe 38,9 °C. Raya kami ajak pulang kampung di Tabanan (rumah asalnya Ibu) untuk liburan Nyepi. Rencana liburan pun kami urungkan.

Selasa, 28 Maret 2017. Nyepi. Masih batuk pilek + panas. Dan masih kebangun dini hari karena panas tinggi. Sama bapaknya sudah berencana, kalo sampe besok panasnya belum turun kita langsung ke dokter, karena sudah lewat 3 hari. Disini Raya masih anteng (dalam artian ga rewel), masih tetep ga bisa diem (biasanya ga bisa diem pake banget). Malemnya meskipun gelap, anaknya ga rewel. Anteng aja diajak nonton bintang sampe ketiduran.

Rabu, 29 Maret 2017. Dini hari, Raya kebangun. Nangis. Suhu badannya tinggi. 38,8 °C. Langsung minum obat penurun panas. Disusui sampe tertidur. Bangun paginya, bukannya seger. Anaknya malah lemes-lemes aktif, dan badannya masih agak anget. Bapak dan Ibu Raya langsung siap-siap balik Denpasar buat ke dokter.

Jalan utama Tabanan - Denpasar sehari setelah Nyepi (hari Ngembak Geni) adalah jalur padat merayap ramai banget. Sepanjang jalan, Raya yang biasanya duduk sendiri di carseat-nya saya pangku. Sambil terus saya susui. Suhu badannya masih anget. Sepanjang perjalanan masih berupaya menelpon ke klinik tempat dokter anaknya praktek. Masih belum diangkat. Sepertinya masih tutup ya? Nyepi dan Ngembak Geni adalah hari libur umum di  Bali. Saya tidak punya (tidak pernah menanyakan sebelumnya) nomer telepon dokter anak langganannya Raya.

Disini saya merasa bodoh. Bodoh karena tidak pernah menanyakan lokasi praktek lain dokternya. Bodoh karena tidak pernah menanyakan nomer telepon dokternya yang bisa dihubungi pada situasi darurat seperti sekarang.

Sampai akhirnya pasrah. Karena mikirnya juga sama-sama dokter anak, yang penting diperiksa dulu biar ketahuan ini sakitnya apa. Akhirnya buat janji ke dokter anak di suatu rumah sakit. Bukan dokter anak langganannya Raya. Dapet nomer terakhir di dokter anak yang buka, sambil terus berusaha menghubungi tempat praktek dokter anak langganannya.
Masuk ruangan dokter. Ada yang aneh. Dokternya langsung membuat kesimpulan-kesimpulan. Tanpa bertanya detail mengenai kondisi Raya. Yang membuat saya dan suami terhenyak adalah ketika dokter anak tersebut langsung memberikan obat anal (tanpa bertanya dan memberi penjelasan mengenai obat tersebut sebelumnya) kemudian mengatakan 'no candy sayang untuk sementara, no ice cream'.

Well, Raya anak kami. Sudah hak kami untuk mengetahui segala jenis obat dan pengobatan yang diberikan pada Raya. Dan candy? OMG. Dokternya bahkan tidak menanyakan pola makan dan pemberian obat untuk Raya sebelumnya pada kami.

Dokter mendiagnosis Raya terkena pneumonia dan harus segera di-opname. Saya dan suami terdiam, saling pandang, saling kirim kode. Kami bersikeras kalau Raya jangan di opname sampai ada hasil lab. Kami keluar ruangan dokter dengan resep obat dan vitamin (yang lagi-lagi ditulis tanpa memberi informasi detail dan tanpa menanyakan riwayat obat yang sudah diberikan). Dan surat rujukan untuk melakukan cek darah, rontgen paru-paru dan nebulizer di rumah sakit tersebut.  Kami ikuti. Sambil tetap berusaha hubungi dokter langganan Raya.
Mungkin memang semua prosesnya harus dilalui, tempat praktek dokter langganan baru bisa dihubungi setelah nebulizer, hasil rontgen dan hasil cek darah keluar. Pembacaan hasil rontgen sesuai dengan perkataan dokter sebelumnya, Raya harus opname. Tapi dengan sopan kami katakan bahwa kami akan cari second opinion dulu sebelum memutuskan apakah Raya akan opname atau tidak. Obat dalam resep tidak kami tebus. Kami pulang.

Sore itu, kami bertiga pergi ke dokter langganannya Raya. Panas tubuhnya sudah mulai turun. Bahkan anaknya sudah lari-larian ketika menunggu antrean dokter.
Sampai giliran Raya untuk diperiksa. Dokternya mulai menanyakan dengan detil ihwal sakitnya Raya. Panas badannya dari hari ke hari, jam berapa panas jam berapa panasnya turun. Pola pemberian obat panas, nafsu makan, gejala sakit, dll. Semua. Detail.
Selesai wawancara, dokternya mulai melihat hasil tes darah dan rontgen dari raya. Menurut diagnosa dokternya, Raya terkena bronkhitis. Boleh rawat jalan dengan pengawasan lebih mendetail lagi pada kondisi badan dan lingkungan sekitarnya. Malam itu, keluar dari ruangan dokter, Raya di-nebul lagi. Obat baru yang diresepkan cuma obat untuk pileknya, tanpa anti-biotik. Obat panas dan batuk masih menggunakan sebelumnya.

Malamnya, Raya tidur nyenyak. Suhu badan normal. Bernapasnya juga sudah lebih ringan. Obat panas hanya diberikan jika suhu badannya naik, dan obat pilek diberikan selama 3 hari ke depan (atau kurang jika pileknya sudah hilang). 3 hari berturut-turut, setiap malam, kami balik ke tempat praktek dokternya untuk nebulizer. Panas badan Raya tidak naik lagi semenjak hari pertama ke dokter.

Alhamdulillah.

Kami bersyukur masih diberi pikiran sehat dalam keadaan terdesak. Sebagai pasien, kami sadar kami tidak memiliki latar belakang pendidikan yang berhubungan dengan dunia kesehatan. Tetapi kami pun sadar, kami berhak tahu dan paham mengenai kondisi tubuh (anak)  kami. Mengenai apa-apa yang akan diberikan pada tubuh (anak) kami. Kami berhak untuk berkonsultasi dan berdiskusi mengenai kondisi kesehatan badan (anak) kami.

Buat kami, ke dokter bukan sekedar buat sembuh, tapi juga buat evaluasi gaya hidup. Percuma kan sembuh, tapi penyebab penyakitnya ga ikut dihilangin. Bakal kena sakit yang sama terus-terusan sampe bosen.
;*


Nebul hari kedua, sebelum pergi kondangan

Tuesday, 9 May 2017

Sandal Jepit Pengingat

Raya, 18,5 bulan

Dulu saya suka menganggap kalau selera anak kecil itu adalah sepenuhnya selera ayah/ibu atau orang-orang dewasa  terdekatnya. Kalau anaknya dandan warna-warni tabrak warna atau malah monokrom, ya itu selera orang tuanya. Pikiran saya, anak ya bakal nurut-nurut aja dikasi apa aja, asalkan dipuji-puji cantik/ganteng/bagus dll.
Kemudian, setelah ada Raya, saya sadar. Saya tidak sepenuhnya benar. Belakangan, hampir setiap habis mandi atau mau keluar rumah, saya harus minta persetujuannya untuk pakaian yang akan dia pakai. Dari kepala sampai ujung kaki. Bukan cuma soal pakaian, makanan, keikutsertaannya dalam suatu kegiatan, apapun hal-hal yang melibatkan dia. Anak seumur ini sudah siap dan bisa untuk berdiskusi. Pendiriannya biasanya akan berubah ke arah kebaikan jika alasan-alasan yang saya berikan dapat diterima oleh Raya.

Ada cerita lucu yang menurut kami juga menjadi pembelajaran besar untuk kedepannya.
Suatu hari, karena ngebet pengen ngajarin Raya pake sandal jepit, saya nitip beli sandal jepit anak-anak ke pengasuhnya. Dibeliin di pasar depan rumah. Sandal jepit karet warna kuning jreng. Dengan alasan, hanya warna itu yang nomernya pas di kaki Raya. Sampai rumah, dengan gembira sendal langsung dipakaikan di kakinya.

Anaknya nolak-nolak.

'Ga mau ga mau'

Sambil hentak-hentak kaki.

Ok.Kemudian sandalnya disimpan. Sore itu, dibawa pulang kerumah, dengan harapan nantinya anaknya mau memakainya sendiri. Sampai anaknya tidur malem, sandal itu tidak tersentuh. Anaknya selalu bilang 'ga mau ga mau' sambil menjauh setiap diminta menggunakan sandal barunya. Padahal sudah diiming-imingi dengan kata-kata 'biar kakinya ga kotor, sendal baru, sendal bagus, sendal ganteng.......'

Seminggu kemudian. Dua minggu kemudian. Anaknya masih menolak mengenakan sandal tersebut. Makin hari, penolakannya makin keras. Bahkan suatu hari, saya memergoki Raya meletakkan sandal tersebut di luar rumah. Baiklah nak, sudah sampai sini, Ibu minta maaf.
Maaf karena telah mengecilkanmu.

Minggu ketiga, sepulang kantor dalam perjalanan pulang ke rumah, Raya ikut ke toko sepatu. Memilih sendiri sepatu yang mana. Well, anak ibu sudah besar. Saya cuma bisa senyum-senyum sendiri ngeliat Raya berkeliling rak sepatu, berhenti beberapa saat di depan sepatu yang dia minati, kemudian berlalu lagi. Senyum-senyum sendiri melihat bagaimana dia berinteraksi dengan tante spg. Dia dengan kesadarannya sendiri bisa mengatakan 'ga mau' pada alas kaki yang tidak diminati. Pada beberapa alas kaki yang menarik perhatiannya pun, dia katakan 'ga mau' setelah dicoba berjalan kesana-kemari.

Pilihan jatuh pada sandal karet tertutup bermotif jaring spiderman, Berwarna merah hitam, dengan pin spiderman di bagian depannya. Awalnya dia ragu-ragu. Diam saja ketika dicoba pakaikan oleh tante SPG. Kemudian berjalan sana-sini mematut-matutkan diri. Kemudian menghampiri saya.

'Aya mau aya mau'

Baik nak. Ini pilihanmu. Setelah cek kondisi alas kaki, bayar di kasir, kemudian pulang.
Sandal itu sampai hari ini selalu menemani kakinya. Kemanapun Raya melangkah. Sekedar ke warung depan, atau pergi agak jauh dengan pakaian rapi.

Sandal pilihan Raya vs sandal yang dipilihkan. Pin spidermannya bahkan sudah hilang 1

Well, pelajaran besar bagi saya dan bapaknya. Kami diingatkan. Diingatkan sekali lagi bahwa anak adalah titipan. Mengingatkan kami bahwa anak (meskipun terlahir dari rahim saya) adalah juga seorang manusia. Manusia yang memiliki pemikirannya sendiri. Manusia yang memiliki dirinya sendiri seutuhnya. Mengingatkan kami untuk bersiap diri, bersiap untuk berdiskusi, bahkan berdebat dengan data dan cinta.


Maka kami percaya kalau perbedaan pendapat dan pemikiran tidak akan mendinginkan hubungan darah kami nantinya. Agar hubungan Bapak -Ibu - Raya - dan (mungkin) adik(-adiknya) nanti benar-benar terikat secara emosional, bukan hanya sekedar kewajiban pertalian darah.

Insya Allah ya

Raya, dengan pakaian pilihannya,

With Love,
Ibu - Bapak


Thursday, 4 May 2017

Duo Serigala

Duo Serigala


Kemarin, seharian ngeliat ini foto seliweran di explore IG. Beberapa akun gosip IG bahkan juga mengangkat foto ini, beberapa dengan lingkaran merah memperjelas maksudnya. Pertama kali lihat, sebagai sesama perempuan saya merasa kasihan. Dalam pikiran saya, uang dan ketenaran yang didapat dari pamer tetek seperti itu tentunya tidak sebanding. Meskipun mungkin itu menyembul tanpa sengaja.

Dalam logika saya. Tetapi saya bisa saja salah.

Foto tersebut saya printscreen. Saya kirim ke suami. Saya tunggu tanggapannya.

Logika saya, sebagai lelaki, dia tentunya menikmati hal-hal semacam itu.

Saya salah, dia seorang bapak sekarang. Risih. Jijik. Prihatin. Jangan salah sangka dengan mengira reaksi suami seperti itu karena saya yang bertanya. Sejak awal, hubungan kami terbuka. Suami tidak sungkan mengungkapkan pujiannya pada perempuan cantik atau berbadan bagus di depan saya. Vice versa, sayapun demikian.

Tidak mau terlalu dalam mengutuki orang-orang yang mencari uang di jalan itu. Saya yakin, mereka tidak sendiri. Mengutuki dan sumpah serapah tidak akan mengubah keadaan apapun. Mendoakan mereka, apalah arti doa saya yang jauh dari sempurna ini.

Diskusi ringan sore itu membulatkan tekad kami sebagai orang tua.

Anak, lelaki atapun perempuan, diberi pendidikan yang bagus. Kasi ilmu agama yang baik. Kasi dorongan positif biar bakatnya berkembang. Dikasi rumah yang homey biar anaknya bahagia. Diberi ruang positif untuk pengembangan ide-idenya. Memiarkan anak tumbuh menjadi manusia mandiri.
Berdoa dan mendidik ke arah kebaikan. Sambil terus berusaha memperbaiki diri.

Banyak ya keinginannya?

Doa kami, agar anak(-anak) nantinya menjadi manusia dewasa utuh dan bahagia. Hingga ga perlu sampe melakukan hal-hal negatif semacam itu hanya untuk penghidupan dan gaya hidup.
Semoga semesta mendengar dan membantu kami mewujudkannya.


Insya Allah.

Thursday, 8 December 2016

Hujan di Bulan Desember.


Hujan. 
Aroma hujan. 
Dinginnya. 
Warna-warna setelah hujan. 
Titik hujan yang jatuh di kaca depan mobil, kemudian tersapu wiper, jatuh lagi, dan tersapu kembali. Persis sperti kenangan-kenangan yang pernah terjadi. Ingin dilupakan, namun kemudian datang kembali.

Hujan di bulan Desember. 
Sayup dingin. 
Aroma penghianatan. Tusukan belati di punggung yang nyerinya masih terasa sampai saat ini. Perih yang terjadi kemudian. Bukan karena alkohol yang disiramkan, belati yang sama menancap lebih dalam. Lebih banyak luka. Nyaris kehabisan darah dan menyerah.

Beruntungnya saya, kita tidak menyerah. 
Ya, kita. Dua manusia yang pernah salah. Pernah saling melukai. Kita yang selalu berusaha melangkah maju. Berdua. Aku dan kamu yang kemudian menjadi kita. 

Bersyukurnya saya.

Hidup bersama semua kenangan itu. Belajar menerima, karena menolak tidak ada dalam daftar pilihan. Seperti hawa dingin saat hujan. 
Dan belajar mempercayai kembali. Tidak mudah memang. Banyak kesalah pahaman terjadi. Yang terbaik memang membiarkannya larut dalam waktu. Berkompromi, memaafkan, hidup dengannya. Menerima. Menerima bahwa kesalahan memang terjadi. Bahwa manusia bisa salah dan bisa memperbaiki.

Sampai hal tersebut terasa ringan. Seringan pembicaraan tentang bentuk awan pagi tadi di sela-sela kopi hangat kita. Dengan senyum di sudut bibir. Senyum di hati kita masing-masing.

'Pak, we're doing great as a team. I can't even imagine i can survive all of this without your support. Let's travel and get old together!'.



I Love you Pakbu.






Wednesday, 16 November 2016

Chocolate Cookies (dengan Otang)

Chocolate Cookies yang sudah jadi

Ini adalah resep pertama yang saya coba dengan otang baru. Memilih chocolate chip cookies karena terlihat mudah (dari sekilas membaca beberapa resep). Pilihan resep jatuh pada resep cookies dari kokiku.tv . Cookies akan terasa lebih enak jika adonannya didiamkan paling tidak semalaman. Jadi, adonan cookies saya buat malam harinya setelah Raya tidur. Simpan kulkas semalaman, baru kemudian dipanggang keesokan sorenya.


Mencacah coklat untuk bahan isian


Bahan :
Bahan basah :
114 gr mentega (saya pakai mentega Bl** B*nd)
90 gr gula pasir
85 gr gula palem
1 butir telur

Bahan Kering :
90 gr tepung terigu protein sedang (saya pakai S*g*t*g* B*r*)
3 gr tepung maizena
100 gr tepung terigu protein tinggi (saya pakai C*kr* K*mb*r)
1/2 sdt baking powder
1/2 sdt baking soda

*)200 gr coklat masak (dark chocolate), dicacah kecil.


Cara Membuat :

1. Kocok mentega dan gula dengan mixer kecepatan tinggi sampai berwarna pucat, masukkan telur sampai adonan ringan dan halus.
2. Campur bahan kering dengan cara diayak. Lalu masukkan ke dalam adonan basah perlahan sambil diaduk dengen kecepatan mixer rendah. Hanya sampai tercampur dengan rata saja. Matikan mixer. Pada tahap ini, rasa adonan sudah hampir mendekati rasa akhir cookies.
3. Masukkan coklat cacah ke dalam adonan, aduk menggunakan spatula sampai tercampur rata.
4. Masukkan adonan dalam wadah tertutup rapat (semacam wadah kedap udara atau bisa juga menggunakan cling wrap), agar adonan tetap lembab. Simpan dalam kulkas semalam (minimal 30 menit).
5. Panaskan oven pada suhu 150 derajat celcius. Jangan lupa membuka penutup penghawaan otang pada bagian atas.
5. Beri lapisan kertas roti pada loyang.
6. Bentuk adonan bulat, kira-kira sebesar kelereng besar. Letakkan di atas loyang dengan radius jarak 5 cm. Biarkan tetap bulat, agar adonan melebar sama besar ke segala arah ketika dipanggang.
7. Panggang selama kurang lebih 14 menit lalu keluarkan. Cookies akan terlihat seperti belum matang sempurna, Biarkan saja tetap dalam loyangnya di luar oven kurang lebih 5 menit sebelum disajikan.
8. Pastikan cookies sudah dingin sempurna sebelum menyimpannya dalam wadah tertutup rapat


Cookies siap kirim ke Bapak


*) isian ini bisa diganti atau dikombinasikan dengan bahan lain sesuai selera. Misalnya dengan kismis, sultana, buah kering, kacang, apa saja. Substitusinya dengan berpatokan pada volume, bukan berat bahan.