Tuesday, 9 May 2017

Sandal Jepit Pengingat

Raya, 18,5 bulan

Dulu saya suka menganggap kalau selera anak kecil itu adalah sepenuhnya selera ayah/ibu atau orang-orang dewasa  terdekatnya. Kalau anaknya dandan warna-warni tabrak warna atau malah monokrom, ya itu selera orang tuanya. Pikiran saya, anak ya bakal nurut-nurut aja dikasi apa aja, asalkan dipuji-puji cantik/ganteng/bagus dll.
Kemudian, setelah ada Raya, saya sadar. Saya tidak sepenuhnya benar. Belakangan, hampir setiap habis mandi atau mau keluar rumah, saya harus minta persetujuannya untuk pakaian yang akan dia pakai. Dari kepala sampai ujung kaki. Bukan cuma soal pakaian, makanan, keikutsertaannya dalam suatu kegiatan, apapun hal-hal yang melibatkan dia. Anak seumur ini sudah siap dan bisa untuk berdiskusi. Pendiriannya biasanya akan berubah ke arah kebaikan jika alasan-alasan yang saya berikan dapat diterima oleh Raya.

Ada cerita lucu yang menurut kami juga menjadi pembelajaran besar untuk kedepannya.
Suatu hari, karena ngebet pengen ngajarin Raya pake sandal jepit, saya nitip beli sandal jepit anak-anak ke pengasuhnya. Dibeliin di pasar depan rumah. Sandal jepit karet warna kuning jreng. Dengan alasan, hanya warna itu yang nomernya pas di kaki Raya. Sampai rumah, dengan gembira sendal langsung dipakaikan di kakinya.

Anaknya nolak-nolak.

'Ga mau ga mau'

Sambil hentak-hentak kaki.

Ok.Kemudian sandalnya disimpan. Sore itu, dibawa pulang kerumah, dengan harapan nantinya anaknya mau memakainya sendiri. Sampai anaknya tidur malem, sandal itu tidak tersentuh. Anaknya selalu bilang 'ga mau ga mau' sambil menjauh setiap diminta menggunakan sandal barunya. Padahal sudah diiming-imingi dengan kata-kata 'biar kakinya ga kotor, sendal baru, sendal bagus, sendal ganteng.......'

Seminggu kemudian. Dua minggu kemudian. Anaknya masih menolak mengenakan sandal tersebut. Makin hari, penolakannya makin keras. Bahkan suatu hari, saya memergoki Raya meletakkan sandal tersebut di luar rumah. Baiklah nak, sudah sampai sini, Ibu minta maaf.
Maaf karena telah mengecilkanmu.

Minggu ketiga, sepulang kantor dalam perjalanan pulang ke rumah, Raya ikut ke toko sepatu. Memilih sendiri sepatu yang mana. Well, anak ibu sudah besar. Saya cuma bisa senyum-senyum sendiri ngeliat Raya berkeliling rak sepatu, berhenti beberapa saat di depan sepatu yang dia minati, kemudian berlalu lagi. Senyum-senyum sendiri melihat bagaimana dia berinteraksi dengan tante spg. Dia dengan kesadarannya sendiri bisa mengatakan 'ga mau' pada alas kaki yang tidak diminati. Pada beberapa alas kaki yang menarik perhatiannya pun, dia katakan 'ga mau' setelah dicoba berjalan kesana-kemari.

Pilihan jatuh pada sandal karet tertutup bermotif jaring spiderman, Berwarna merah hitam, dengan pin spiderman di bagian depannya. Awalnya dia ragu-ragu. Diam saja ketika dicoba pakaikan oleh tante SPG. Kemudian berjalan sana-sini mematut-matutkan diri. Kemudian menghampiri saya.

'Aya mau aya mau'

Baik nak. Ini pilihanmu. Setelah cek kondisi alas kaki, bayar di kasir, kemudian pulang.
Sandal itu sampai hari ini selalu menemani kakinya. Kemanapun Raya melangkah. Sekedar ke warung depan, atau pergi agak jauh dengan pakaian rapi.

Sandal pilihan Raya vs sandal yang dipilihkan. Pin spidermannya bahkan sudah hilang 1

Well, pelajaran besar bagi saya dan bapaknya. Kami diingatkan. Diingatkan sekali lagi bahwa anak adalah titipan. Mengingatkan kami bahwa anak (meskipun terlahir dari rahim saya) adalah juga seorang manusia. Manusia yang memiliki pemikirannya sendiri. Manusia yang memiliki dirinya sendiri seutuhnya. Mengingatkan kami untuk bersiap diri, bersiap untuk berdiskusi, bahkan berdebat dengan data dan cinta.


Maka kami percaya kalau perbedaan pendapat dan pemikiran tidak akan mendinginkan hubungan darah kami nantinya. Agar hubungan Bapak -Ibu - Raya - dan (mungkin) adik(-adiknya) nanti benar-benar terikat secara emosional, bukan hanya sekedar kewajiban pertalian darah.

Insya Allah ya

Raya, dengan pakaian pilihannya,

With Love,
Ibu - Bapak


Thursday, 4 May 2017

Duo Serigala

Duo Serigala


Kemarin, seharian ngeliat ini foto seliweran di explore IG. Beberapa akun gosip IG bahkan juga mengangkat foto ini, beberapa dengan lingkaran merah memperjelas maksudnya. Pertama kali lihat, sebagai sesama perempuan saya merasa kasihan. Dalam pikiran saya, uang dan ketenaran yang didapat dari pamer tetek seperti itu tentunya tidak sebanding. Meskipun mungkin itu menyembul tanpa sengaja.

Dalam logika saya. Tetapi saya bisa saja salah.

Foto tersebut saya printscreen. Saya kirim ke suami. Saya tunggu tanggapannya.

Logika saya, sebagai lelaki, dia tentunya menikmati hal-hal semacam itu.

Saya salah, dia seorang bapak sekarang. Risih. Jijik. Prihatin. Jangan salah sangka dengan mengira reaksi suami seperti itu karena saya yang bertanya. Sejak awal, hubungan kami terbuka. Suami tidak sungkan mengungkapkan pujiannya pada perempuan cantik atau berbadan bagus di depan saya. Vice versa, sayapun demikian.

Tidak mau terlalu dalam mengutuki orang-orang yang mencari uang di jalan itu. Saya yakin, mereka tidak sendiri. Mengutuki dan sumpah serapah tidak akan mengubah keadaan apapun. Mendoakan mereka, apalah arti doa saya yang jauh dari sempurna ini.

Diskusi ringan sore itu membulatkan tekad kami sebagai orang tua.

Anak, lelaki atapun perempuan, diberi pendidikan yang bagus. Kasi ilmu agama yang baik. Kasi dorongan positif biar bakatnya berkembang. Dikasi rumah yang homey biar anaknya bahagia. Diberi ruang positif untuk pengembangan ide-idenya. Memiarkan anak tumbuh menjadi manusia mandiri.
Berdoa dan mendidik ke arah kebaikan. Sambil terus berusaha memperbaiki diri.

Banyak ya keinginannya?

Doa kami, agar anak(-anak) nantinya menjadi manusia dewasa utuh dan bahagia. Hingga ga perlu sampe melakukan hal-hal negatif semacam itu hanya untuk penghidupan dan gaya hidup.
Semoga semesta mendengar dan membantu kami mewujudkannya.


Insya Allah.

Thursday, 8 December 2016

Hujan di Bulan Desember.


Hujan. 
Aroma hujan. 
Dinginnya. 
Warna-warna setelah hujan. 
Titik hujan yang jatuh di kaca depan mobil, kemudian tersapu wiper, jatuh lagi, dan tersapu kembali. Persis sperti kenangan-kenangan yang pernah terjadi. Ingin dilupakan, namun kemudian datang kembali.

Hujan di bulan Desember. 
Sayup dingin. 
Aroma penghianatan. Tusukan belati di punggung yang nyerinya masih terasa sampai saat ini. Perih yang terjadi kemudian. Bukan karena alkohol yang disiramkan, belati yang sama menancap lebih dalam. Lebih banyak luka. Nyaris kehabisan darah dan menyerah.

Beruntungnya saya, kita tidak menyerah. 
Ya, kita. Dua manusia yang pernah salah. Pernah saling melukai. Kita yang selalu berusaha melangkah maju. Berdua. Aku dan kamu yang kemudian menjadi kita. 

Bersyukurnya saya.

Hidup bersama semua kenangan itu. Belajar menerima, karena menolak tidak ada dalam daftar pilihan. Seperti hawa dingin saat hujan. 
Dan belajar mempercayai kembali. Tidak mudah memang. Banyak kesalah pahaman terjadi. Yang terbaik memang membiarkannya larut dalam waktu. Berkompromi, memaafkan, hidup dengannya. Menerima. Menerima bahwa kesalahan memang terjadi. Bahwa manusia bisa salah dan bisa memperbaiki.

Sampai hal tersebut terasa ringan. Seringan pembicaraan tentang bentuk awan pagi tadi di sela-sela kopi hangat kita. Dengan senyum di sudut bibir. Senyum di hati kita masing-masing.

'Pak, we're doing great as a team. I can't even imagine i can survive all of this without your support. Let's travel and get old together!'.



I Love you Pakbu.






Wednesday, 16 November 2016

Chocolate Cookies (dengan Otang)

Chocolate Cookies yang sudah jadi

Ini adalah resep pertama yang saya coba dengan otang baru. Memilih chocolate chip cookies karena terlihat mudah (dari sekilas membaca beberapa resep). Pilihan resep jatuh pada resep cookies dari kokiku.tv . Cookies akan terasa lebih enak jika adonannya didiamkan paling tidak semalaman. Jadi, adonan cookies saya buat malam harinya setelah Raya tidur. Simpan kulkas semalaman, baru kemudian dipanggang keesokan sorenya.


Mencacah coklat untuk bahan isian


Bahan :
Bahan basah :
114 gr mentega (saya pakai mentega Bl** B*nd)
90 gr gula pasir
85 gr gula palem
1 butir telur

Bahan Kering :
90 gr tepung terigu protein sedang (saya pakai S*g*t*g* B*r*)
3 gr tepung maizena
100 gr tepung terigu protein tinggi (saya pakai C*kr* K*mb*r)
1/2 sdt baking powder
1/2 sdt baking soda

*)200 gr coklat masak (dark chocolate), dicacah kecil.


Cara Membuat :

1. Kocok mentega dan gula dengan mixer kecepatan tinggi sampai berwarna pucat, masukkan telur sampai adonan ringan dan halus.
2. Campur bahan kering dengan cara diayak. Lalu masukkan ke dalam adonan basah perlahan sambil diaduk dengen kecepatan mixer rendah. Hanya sampai tercampur dengan rata saja. Matikan mixer. Pada tahap ini, rasa adonan sudah hampir mendekati rasa akhir cookies.
3. Masukkan coklat cacah ke dalam adonan, aduk menggunakan spatula sampai tercampur rata.
4. Masukkan adonan dalam wadah tertutup rapat (semacam wadah kedap udara atau bisa juga menggunakan cling wrap), agar adonan tetap lembab. Simpan dalam kulkas semalam (minimal 30 menit).
5. Panaskan oven pada suhu 150 derajat celcius. Jangan lupa membuka penutup penghawaan otang pada bagian atas.
5. Beri lapisan kertas roti pada loyang.
6. Bentuk adonan bulat, kira-kira sebesar kelereng besar. Letakkan di atas loyang dengan radius jarak 5 cm. Biarkan tetap bulat, agar adonan melebar sama besar ke segala arah ketika dipanggang.
7. Panggang selama kurang lebih 14 menit lalu keluarkan. Cookies akan terlihat seperti belum matang sempurna, Biarkan saja tetap dalam loyangnya di luar oven kurang lebih 5 menit sebelum disajikan.
8. Pastikan cookies sudah dingin sempurna sebelum menyimpannya dalam wadah tertutup rapat


Cookies siap kirim ke Bapak


*) isian ini bisa diganti atau dikombinasikan dengan bahan lain sesuai selera. Misalnya dengan kismis, sultana, buah kering, kacang, apa saja. Substitusinya dengan berpatokan pada volume, bukan berat bahan.


Tuesday, 15 November 2016

Oven Tangkring (Otang)

Setelah sekian lama muter-muter berpikir kesana kemari. Berpikir antara beli oven listrik atau oven gas, atau oven kompor. Akhirnya, saya memutuskan untuk membeli oven tangkring alias otang. Dengan pertimbangan harga (tentu saja) dan penyimpanan (jika tidak dipakai, oven bisa diletakkan di gudang). Kesalahan saya adalah, setelah beli otang baru menyempatkan diri untuk browsing-browsing jenis-jenis dan trik menggunakan oven tangkring. Waktu itu asal beli, karena mikirnya paling cuma dipakai sekali dua kali. Takut ga kepake. Dan pemikiran negatif lainnya.

Oven tangkring merek Roda Mas, tiga susun. Dibeli di toko oven deket rumah. Satu-satunya pertimbangan memilih oven ini ialah dimensinya paling memungkinkan untuk ditaruh di dapur (ga kekecilan ga kebesaran). Otang yang saya beli memiliki lubang penghawaan di bagian atasnya, bukan jenis yang bisa dipakai memanggang menggunakan api atas. Oven inipun tidak memiliki termometer bawaan, sehingga saya kemudian membeli termometer oven secara terpisah. Karena ketepatan suhu sangat penting dalam proses baking.

Otang On Duty

Sebelum dipergunakan, Otang harus dipanaskan beberapa kali. Gunanya untuk menghilangkan bau sangit oven baru. Saya melakukannya, tiga kali saja. Oven saya panaskan sampai jarum termometer menunjuk area merah, diamkan beberapa saat kemudian matikan api. Dan biarkan oven mendingin sendiri. Pemanasan pertama, keluar suara berkeriut-keriut dari dalam otang. Seperti suara lempengan besi yang dibengkokkan. Ditambah bau sangit yang sangat keras. Bau sangit hilang pada pemanasan ketiga. Suara berkeriut tidak hilang sampai saat ini, hanya frekuensi dan intensitasnya yang berkurang jauh. 

Begini susunan rak dalam Otang saya ketika dipergunakan

Baking menggunakan otang memang lebih tricky daripada menggunakan oven listrik. Tricky masalah menjaga stabilitas panas (panas yang merata dan konstan). Ada beberapa cara yang saya coba untuk mengakali masalah panas ini.
  • Cara pertama, mengakalinya dengan menggunakan penyangga tambahan, agar api tidak langsung menyentuh bodi otang. Tapi saya malas menyimpan pecahan genteng, batu bata, dan sejenisnya untuk penyangga otang. Mau buat penyangga yang bagus dan tahan panas tinggi, kasian bodi kompor gasnya yang kinyis-kinyis nanti jadi kegores-gores. Kan kesel liatnya.
  • Cara kedua, dengan meletakkan air di dasar otang. Air ini berfungsi untuk mendistribusikan panas dari kompor ke seluruh bagian otang (api kompor kan jatuhnya di satu titik). Pertama saya coba yang air dulu. Menggunakan loyang tanpa sambungan bawaan si oven. Karena loyangnya tidak terlalu tinggi, jadi musti rajin cek dan nambahin airnya. Akibatnya apa? Iya, suhu dalam otang jadi naik turun karena keseringan buka tutup otang. Kemudian, beli loyang persegi seukuran pas dengan si otang. Loyang persegi agak tinggi, jadi sepertinya tidak perlu sering-sering buka tutup oven utnuk tambah air. Dan ketika dipakai baking, loyangnya bocor, air panas jatuh dan menggenang di sekitar kompor...aarrgghhhhh....
  • Lupakan air. Saya kemudian mencoba cara lain, pasir. Fungsi pasir dan air dalam Otang hampir sama dalam masalah pendistribusian panas. Pasir sebanyak setengah kaleng biskuit Kh*ng G**n yang bulat sudah cukup. Pasir ini yang sampai sekarang setia nongkrong di dalem oven saya. Dan sepertinya akan ada disana seumur hidupnya.

Satu lagi, selama baking menggunakan otang musti rajin cek suhu yang tertera di termometer. Besarkan dan kecilkan api sesuai kebutuhan. Jika suhu di termometer terlihat naik, kecilkan api. Demikian juga sebaliknya.
Oh iya, lesson learnt, setiap mau mencoba resep, tanda-tanda hasil baking-an yang sudah matang musti dipahami betul-betul. Ya karena suhu dalam otang tidak se-stabil suhu oven listrik. Jadi saya tidak terlalu streng berpatokan dengan lamanya waktu baking yang tertera di resep. 
Pada intinya sih, harus sering-sering dipergunakan agar paham betul cara kerja si oven tangkring ini.


Happy Baking :) 

Tuesday, 20 September 2016

11 bulan

Manggala Raya 


Raya adalah anugerah pertama dalam kehidupan pernikahan kami, yang langsung hadir setelah menikah tanpa jeda waktu menunggu. Meskipun sempat ada flek pada masa awal kehamilan, sebab Pakbu dan Bubu bahkan belum tahu jika kamu sudah ada. Bubu yang waktu itu bekerja full time dari rumah belum punya meja dan kursi kerja yang memadai, jadi sering bekerja dengan laptop sambil melantai ataupun duduk dengan posisi jongkok. Bahkan kami sempat bepergian dengan sepeda motor (3 jam sekali perjalanan - 6 jam pulang pergi) melewati jalanan yang tidak bisa dibilang mulus.
Alhasil, posisi Raya turun dari tempat seharusnya. Bedrest seminggu penuh pun Bubu jalani. Untuk Bubu yang selalu bergerak, berat loh  harus diam di tempat tidur sepanjang hari tanpa rasa sakit. Sedikit gerak yang dirasa normalpun bisa membuat posisimu lebih turun lagi.

Sisa waktu kehamilan kemudian kita jalani dengan menyenangkan, serius, menyenangkan. Kamu kuat. Jauh lebih kuat dari yang kami kira. Tanpa rasa mual, muntah ataupun pegal berlebihan. Tidak minum susu ibu hamil. Tanpa pantangan makanan (bahkan makanan pedas dan nanas pun masuk perut dengan lancar). Tetap beraktfitas mandiri dengan normal, kecuali untuk pekerjaan yang membutuhkan posisi (duduk) berjongkok.

Memasuki bulan kelima kehamilan, kondisi pekerjaan Pakbu mengharuskan kami tinggal terpisah. Dari Makassar, Pakbu pindah ke Jakarta. Sementara Bubu balik lagi ke Bali dan mulai bekerja kantoran lagi. Di Bali, kita tinggal bersama dengan Gusi (kakek) dan Mbah Ibu (nenek) mu. Sejak mulai bekerja kantoran lagi, Bubu biasa menyetir sendiri kemana-mana. Perjalanan rumah-kantor yang ditempuh dalam waktu 20-45 menit (tergantung kondisi lalu lintas) benar-benar menjadi quality time bagi Bubu dan Raya. Bubu bicara, kamu menanggapi. Bubu bernyanyi, kamu bergoyang. Bubu nyinyir, kamu bergerak.

 Foto oleh : AngWi Photography

Hari itu, Jumat (2015/10/16) tidak Bubu rencanakan sebagai hari terakhir bekerja (sebelum masuk masa cuti hamil). Bubu masih bekerja normal, setir kendaraan sendiri, beraktifitas seperti biasa. Masih ingat nak? Semenjak usia kehamilan tujuh bulan setiap sore kita selalu jalan sore di lapangan Renon. Sepatu kets dan baju kantor (terkadang kemeja). Dua putaran jalan cepat, kurang lebih 2,4 km. Terkadang jagung bakar pedas atau lumpia pedas sesudahnya.


Sabtu 2015 10 17
Bangun pagi. Jalan keliling kompleks perumahan. Bermalas-malasan sampai siang menjelang. Keluar flek. Bubu langsung ke rumah sakit untuk periksa. Alhamdulillah sudah bukaan satu nak. Rasanya deg-degan. Tidak sabar. Antara tidak sabar ingin bertemu kamu dan deg-degan menunggu rasa sakit yang akan datang. Sabtu sore, Gusi Titi dan Mbah Ibu Titi datang untuk menginap. Menunggui kedatanganmu. Sementara Gusi dan Mbah Ibu mu masih di luar pulau. Sabtu malam, Pakbu tiba di Bali dengan tiket pesawat paling cepat yang bisa didapat.

-Anak pertama biasanya bukaannya lama....Baru bukaan 1 kan? Masih 3 atau 4 hari lagi tu...-

Minggu 2015 10 18
Minggu pagi. Sudah ada Pakbu yang siaga menemani. Berangkat senam hamil di rumah sakit sekaligus cek kondisi denyut jantung dan pergerakanmu. Denyut jantung normal, dan (seperti biasa) kamu sangat aktif. Pulang senam, masih sempat mampir ke pasar Badung untuk membeli sisa perlengkapanmu. Sorenya, kembali periksa di rumah sakit karena ada flek lagi. Sudah bukaan dua nak. Pulang dari rumah sakit bukannya langsung pulang, malah langsung ke pantai Sanur. Pacaran. Hahahahaha....

Foto kaki Pakbu (kiri) dan Bubu (kanan), hampir sama besarnya


Senin 2015 10 19

03.00, terbangun karena perut mulai terasa sakit. Buru-buru berangkat ke rumah sakit. Bubu kira sudah bukaan besar, anak pertama jadi masih belum tahu seperti apa jika sudah bukaan banyak. Tapi ternyata masih bukaan dua mau ke tiga. Sempat ditawari untuk ambil kamar saja daripada bolak-balik. Tapi diam di rumah sakit dalam kondisi yang asing sambil menahan sakit juga bukan hal yang baik. Kembali pulang dan lanjut tidur.

06.00. Kembali terbangun karena sakit perut. Tapi kali ini lebih intens. Pakbu yang sibuk mengukur frekuensi sakitnya, sambil membujuk-bujuk bubu untuk bangun dari kasur segera ke rumah sakit. sementara Bubu masih masih mengantuk dan sibuk berusaha tidur kembali sambil menahan sakit.

07.00. Akhirnya kami putuskan untuk berangkat saja ke rumah sakit. Dan alamak, itu jam berangkat kerja di hari Senin. Entah jam berapa tiba di rumah sakit, yang pasti rasanya perjalanannya cukup lama. Bubu turun sendiri di porte cochere rumah sakit sambil membawa tas dokumen (isinya mulai dari buku dokter sampai kuitansi kamar rumah sakit). Sementara Pakbu langsung mencari parkiran. Jalan ke meja resepsionis sendiri. Jalan ke ruang bersalin juga sendiri, padahal ada suster yang mendampingi. Bubu sendiri bingung, harus dipegangi di bagian mana agar sakitnya berkurang. Naik bed, kemudian dicek lagi. Bukaan empat, meskipun posisi Raya masih belum turun ke panggul.
Air ketuban pecah segera setelah suster membuka sarung tangan usai memeriksa bukaan. Pecah, kemudian berhenti mengalir. Tanda bagus katanya. Kepalamu sudah masuk rongga panggul, sudah di jalan lahir. Sedikit lagi. Sedikit lagi, kita bertemu nak.
Bukan 5, 6, 7, 8 dan seterusnya berlangsung dengan cepat.

8.19. Ditunggui Pakbu sejak awal, Manggala Raya Awra Istanto lahir, normal spontan. Berat 3,04 panjang 50 cm.Sepuluh hari lebih awal dari HPL.

Raya sesaat setelah lahir, sewaktu proses IMD


Terima kasih nak. Terima kasih sudah membuat prosesnya menjadi begitu cepat dan mudah. Terima kasih sudah berusaha mencari jalanmu.


Raya umur 1 hari

Tuesday, 2 August 2016

Kaldu Ayam Beku MPASI

 Kaldu
Kal.du
Air (kuah) daging yang direbus


Sejak sebelum masa MPASI Raya, saya sudah bertekad untuk memasak sendiri makanan untuk Raya.Mulai mengumpulkan tekad, semangat, dan resep MPASI rumahan. Rajin membaca artikel-artikel tentang MPASI, sampai kemudian ikut di grup Homemade Healthy Baby Food di laman Facebook. Saya sadar sepenuhnya, sebagai ibu bekerja dan senang bepergian selalu ada excuse untuk memberikan makanan bayi instan.

Umur Raya saat ini sudah masuk 9 bulan 2 minggu. Alhamdulillah sampai saat ini tidak pernah bolong membuatkan sendiri MPASI Raya. Banyak teknik memasak maupun penyimpanan MPASI sudah dicoba. Mulai dari puree yang dibekukan (untuk liburan) sampai MPASI hangat segar baru dimasak setiap akhir minggu (yang tidak ada acara keluar rumah).

Sebagian bahan untuk membuat stok Kaldu Ayam beku

Menurut saya,  ada dua persyaratan utama yang harus dipenuhi untuk MPASI Raya. Yang pertama mudah dan cepat dibuat (saya bukan morning person yang rela bangun pagi buta hanya untuk masak). Yang kedua ialah bisa dibuat sekali untuk makan sepanjang hari, baik disimpan dalam suhu ruangan atau dihangatkan ketika akan dikonsumsi. Salah satu cara praktis untuk memenuhi kebutuhan nutrisi dan memberi rasa gurih alami pada makanan ialah dengan membuat stok kaldu beku. Resep dasar kaldu ayam beku ini sendiri saya ambil dari group Homemade Healthy Baby Food di laman Facebook, dengan sedikit modifikasi a la saya.

Percobaan pertama membuat stok kaldu ayam kampung beku sukses. Sukses dalam artian Raya tetap makan dengan lahap dan tidak timbul reaksi alergi.
Kaldu ayam ini saya buat dari 1 ekor ayam kampung utuh, entah berapa kg beratnya. Daging ayamnya saya sisihkan untuk tambahan mpasi, dan tulangnya saya pergunakan untuk membuat kaldu. Daging ayamnya saya potong kecil-kecil. Disimpan dalam keadaan beku dalam kantung plastik. Satu kantung plastik untuk sekali masak.
Karena membuat kaldu ini memerlukan waktu lumayan lama, saya biasanya membuat kaldu pada akhir minggu. Kaldu mulai dimasak siang hari, dan sudah jadi kaldu beku siap disimpan pada malam harinya.

Potongan daging ayam dibungkus plastik, siap dibekukan




Berikut resep dan cara memasak Kaldu Ayam beku
Bahan :
  • 1 ekor ayam kampung. Bersihkan dan pisahkan antara daging dan tulangnya. Sisihkan daging, tulang, sayap, dan cekernya.
  • 2 liter air.
  • 1 siung bawang putih, geprek.
  • 2 batang seledri, simpulkan.
  • 1 buah wortel utuh, bersihkan kulitnya.
  • 1 batang daun bawang iris halus.
  • 1 buah tomat, iris halus.
  • 2 lembar daun salam.
  • ½ ruas jari jahe, geprek 
Cara Memasak : 
  • Didihkan air.
  • Masukkan bawang putih, tulang ayam, ceker, dan sayap ayam.
  • Rebus dengan api kecil sampai air menjadi 3/4-nya.
  • Masukkan bahan bahan lainnya.
  • Rebus kembali sekitar 15-20 menit.
  • Angkat, buang lemak yang mengambang.
  • Dinginkan.
  • Saring kaldu.
  • Masukkan kaldu ke dalam wadah tertutup untuk 1 kali masak. Simpan di freezer. Sebagian kaldu saya simpan dalam baby cubes (8 cubes ukuran 80ml). Sebagian lagi dicetak dengan cetakan es batu, setelah beku dimasukkan plastik kecil-kecil ukuran sekali porsi masak.
Kaldu ayam pada saat dimasak